Berwawancara

Bapak Rumah Tangga

Apakah perempuan itu harus bisa memasak, menyukai bersih-bersih rumah atau kegiatan lain yang selalu dikaitkan dengan feminitas? Bahkan terkadang, memasak menjadi salah satu syarat agar lelaki ingin menikahi seseorang. Sejujurnya, saya percaya bahwa itu bukanlah hal yang bijak. Jika bisa melakukannya sebelum pernikahan memang baik, tapi jika menjadi syarat yang harus terpenuhi, apa asiknya? Bukankah ketika nantinya ketika sama-sama belajar banyak hal bersama pasangan akan lebih menyenangkan.

Memasak misalnya, itu bukan kewajiban, tapi merupakan skill yang tak berhubungan dengan gender. Menikah tak hanya menyoal tuntut-menuntut perihal hak dan kewajiban. Menikah juga tentang kerja sama dan tolong menolong.

Dalam masyarakat kita pun, ada terlalu banyak stereotipe seperti laki-laki bukan tempatnya untuk berada di dapur, atau kewajiban mengurus rumah mutlak hanya pekerjaan perempuan.

Kali ini, didukung dengan kekosongan waktu yang melimpah. Saya akhirnya mewawancarai suami sendiri, menanyakan perihal kenapa dia ingin ikut mengurus pekerjaan rumah bahkan membagikan hal tersebut ke sosial medianya dengan percaya diri.

Halo Kak Azhar hehe, Assalamualaikum.

Waalaikumsalam, Hai Halo istriku. oh iya harus serius ya, lagi diwawancarai.

Sebagai awalan, bagaimana rasanya setengah tahun setelah menikah?

Rasanya menyenangkan dan renyah kayak gorengan yang biasa dibuatin istri. Menyenangkan karena sekarang sudah ada yang memerhatikan dan cerewet terhadap apa yang dilakukan. Semuanya selalu menarik karena saya menikmati status saya sebagai suami, walaupun masih banyak kekurangan. kurang banyak baca buku hehe

Ketika memutuskan akan menikah, memang sudah terbayang kah untuk membagi pekerjaan rumah atau baru “ngeh” pas menjalaninya?

Terbayang juga ngak, ngeh pas menjalaninya juga ngak. Saya hanya meyakini bahwa pernikahan selain tentang menjadi imam bagi istri juga tentang bagaimana bekerjasama dengan baik dalam rumah tangga. Jadi tak ada hal yang memang hanya dikerjakan istri ataupun suami, selama itu bisa dikerjakan bersama atau saling bantu. Kenapa tidak. Intinya adalah saling memahami dalam menjalaninya.

Bagaimana dengan menempatkan diri sebagai pemimpin dalam rumah tangga?

Menjadi pemimpin dalam rumah tangga adalah keniscayaan bagi seorang suami. Menjalaninya bukan berarti memaksakan segala kehendak tapi lebih mengutamakan musyawarah jika ada hal yang ingin dibahas. Walaupun sebagai pemimpin, seorang suami juga harus berani mengambil keputusan untuk mengarahkan rumah tangganya. Mengambil keputusan beli sayur 2 ikat aja, kalau 4 ikat kebanyakan nanti.

Kak Azhar percaya kalau laki-laki harus dilibatkan dalam pekerjaan rumah?

Percaya. Bukan hanya laki-laki, perempuan pun seyogianya dilibatkan dalam segala yang menyangkut rumah tangga.

Soal masak memasak, Kak Azhar sudah suka memasak sebelum menikah?

Mungkin belum bisa disebut suka karena sangat jarang masak tapi sudah bisa memasak sebelum menikah

Memasaknya dalam artian apa? Resep yang susah sekalipun atau sebatas indomie telur?

Hehe memasaknya hanya sekedar nasi goreng, telur goreng, indomie telur tentunya. Seingat saya cuma itu.

Kenapa Kak Azhar suka sharing di sosmed? Pernah malu nggak?

Ngapain malu, kita kan ngak ngelakuin kejahatan yang bisa kena pidana. Malah saya pengen sering ngeshare dan berharapnya resepnya bukan lagi yang simple. Kebanyakan chef hebat kan juga laki-laki.

Maksudnya malu dikatain kok masak? Kok cuci piring? Kok siram tanaman? Kadang kan sharenya bukan cuma yang masak saja.

Masa kecil sampai SMP saya di kampung, waktu kecil saya sering diajak nenek ke kebun, malah pernah nginap di rumah kebun. Waktu SMP bahkan di bulan ramadan pagi-pagi sudah ke kebun temani etta (ayah) membersihkan. Cuma karena SMA merantau ke kota jadinya nggak pernah berkebun lagi.

Jadi ngak pernah malu untuk share. Malah menurut saya hal positif harus dibagikan, harapannya bisa menularkan hal positif ke orang lain.

Gengsi sebagai lelaki yang dikenal maskulin pernah membuat merasa risih nggak kalau ikut melaksanakan pekerjaan rumah?

Ngak pernah. Dari kecil saya sering melihat ayah saya malah berdua ibu cuci baju di akhir pekan, ayah buang sampah dan terkadang juga cuci piring. Mungkin dari situ juga saya belajar bahwa rumah tangga itu tentang bekerjasama.

Efek positif nya ada nggak kak? Ntah makin disayang istri atau yang lain mungkin.

Kalau makin disayang istri mungkin harus ditanyain langsung ke istri hehe.

Bisa tahu banyak resep makanan, apalagi saat istri hamil muda nggak kuat terlalu nyium bau dapur. Saat itu saya sudah bisa masak beberapa resep yang diajarkan istri sebelumnya. Bisa tau cara berkebun dan merawat tanaman setelah belajar sama istri juga.
Intinya yang positif saya jadi lebih tau banyak hal.

Ada tidak sesuatu yang semakin memotivasi untuk belajar banyak hal tentang pekerjaan rumah?

Motivasi utama saya yaitu istri. Sebelum menikah saya sadar punya banyak kekurangan sebagai seorang imam dan istri saya hadir untuk saling bantu. Dia alasan dan motivasi utama saya, ditambahkan calon anak kami supaya bisa bangga punya ayah yang tahu banyak hal juga.

Kalau sekarang pembagian tugasnya dirumah gimana? Kan Kak Azhar juga statusnya sebagai Karyawan.

Biasanya saya yang belanja ke pasar, kadang juga bareng istri ke pasar. Trus di rumah istri yang masak dan saya yang cuci piring.
Saya yang cuci pakaian trus istri yang menjemur, kadang juga jemurnya berdua.

Buang sampah?

Buang sampah saya. Ngak mungkin istri yang keluar buang sampah, berat soalnya. Kadang membantu istri dirumah bisa menimbulkan empati, kita jadi tahu bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga itu nggak muda. Kembali soal sampah, biasanya Istri ngumpulin di dalam rumah, saya bagian buang.

Pernah ngerasa capek ngk? Kan kerja capek, pulang kantor masa cuci piring. Ada motivasi yang bikin semangat nggak?

Saya justru capek kalau habis beraktivitas terus langsung ngak ngerjain apa-apa. Jadi biasanya capeknya baru kerasa pas mau tidur aja.

Oh ya, ayah saya seorang PNS guru, tapi diluar waktu kerja dia hobby berkebun, menangkap ikan dilaut, pernah juga pelihara ayam di rumah. Mungkin turun dari ayah saya kali ya kesukaan terlibat dalam pekerjaan rumah tangga.
Istri alasan saya selalu semangat setiap hari. Walaupun mungkin kadang saya susah nunjukinnya. 🙂

Ada resep nggak yang ingin Kak Azhar bisa buat masakin ke istri?

Mungkin nanti mau belajar bikin sushi. Istri saya suka makan sushi.

Peran istri penting nggak dalam membuat keputusan?

Sangat penting. Karena seyogianya semua anggota keluarga baik suami, istri dan InsyaAllah anak juga kelak memiliki peran masing-masing.

Pembagian peran yang ideal menurut kak azhar seperti apa?

Apa ya yang ideal. Jujur ngak pernah mikir pembagian peran dalam rumah tangga. Cuma berpikir kewajiban suami memberi nafkah, urusan pekerjaan rumah dibuat fleksibel saja. Kalau istri lagi ngak bisa masak, ya saya yang masak. Atau kalau lagi ngak bisa berdua, beli makan diluar hehe. intinya dibuat fleksibel aja selama kami sama-sama menjalaninya dengan perasaan senang

Ada harapan nggak kak buat ke depannya?

Harapannya nanti beli mesin cuci supaya nggak nyuci pakai tangan lagi, sama bisa memasak lebih banyak resep makanan.

Ada yang ketinggalan nih, Ceritakan soal kehidupan kak Azhar sekarang dong, semisal kegiatan, pekerjaan, kesibukan atau apapun.

Saya sekarang berstatus karyawan salah satu perusahaan telekomunikasi. Kesibukan selain bekerja, bersama istri membuat semacam web magazine walaupun istri lebih banyak berperan menjalankannya. Berkebun sayuran di halaman rumah kontrakan walaupun saat saya mudik tidak terawat. Sekarang sih masih merencanakan membuat sebuah bisnis keluarga, siapa tahu hoki di dunia bisnis, walaupun kecil-kecilan.
Tapi kesibukan paling utama yaitu sebagai suami siaga yang istrinya sedang hamil dan sibuk mempersiapkan diri sebagai calon ayah yang lucu dan bisa menenangkan anak saat nangis.

 

Jika ingin bertegur sapa dengan Kak Azhar bisa melalui Instagram/twitter : @aazharm & facebook : Andi Azhar Mustafa.

Tinggalkan Komentar