Berwawancara

Berwawancara #4 Zahro: Pengalaman Menabung dan Membeli Rumah Syariah

Beli rumah tanpa riba? Memangnya bisa?

Nah, berwawancara kali ini kita akan ngobrol bareng Jamilatuz Zahro yang meskipun usianya masih 22 tahun tapi sudah bisa membeli rumah sendiri. Seperti pepatah hemat pangkal kaya, impian memiliki rumah dapat diwujudkan berkat rajin menabung dan hidup sederhana saja. Hal yang menjadikannya makin menarik, rumah yang dibelinya merupakan rumah syariah yang sistem jual belinya didasarkan pada prinsip dan nilai-nilai Islam. Jadi kalau selama ini takut beli rumah karena riba, rumah syariah ini solusinya.

Banyak sekali orang yang menganggap bahwa properti syariah adalah jenis properti dalam bentuk perumahan yang hanya diperuntukkan kepada umat islam saja. Sebenarnya, siapa saja boleh membeli properti syariah ini. Untuk  warga non muslim yang ingin beli rumah tanpa riba juga bisa.

Assalamualaikum. Zahro perkenalan dulu dong.

Waalaikumsalam mbak ria hehe. Nama saya Jamilatuz Zahro, sekarang umurnya 22 tahun. Tinggalnya di kota Malang.

Zahro sekarang profesinya apa?

Usaha travel namanya Lepas Suntuk dan beberapa usaha di bidang sejenis dibidang penyewaan. Sewa mobil, motor dan hunian secara harian.

Pebisnis ya masyaaAllah. Cerita dong Za tentang awal mula ingin membeli rumah tanpa harus terlibat riba.

Jadi zahro membangun usaha bersama kedua teman, namanya Ading dan Edy. Nah, sebenarnya belum pernah kepikiran juga buat beli rumah dulu, karena memang ada beberapa tanggungan di usaha yang harus diselesaikan. Seiring berjalannya usaha kami alhamdulillah diberikan kelancaran. Setelah menyelesaikan beberapa tanggungan pokok, kami berencana membeli rumah sebagai investasi di masa depan juga. Semakin dimudahkan jalannya karena kami ada teman yang bekerja di bidang properti.

Bincang-bincang dan diskusi telah selesai, diputuskanlah kami membeli 3 rumah untuk kita bertiga dan memang transaksinya jual belinya tidak melalui bank, jadi kita cicil selama 24 bulan dengan nominal yang sama dengan harga beli rumahnya. Rumah Program tanpa riba sebenarnya memang programnya teman yang kerja di properti itu, Kami kebetulan menemukan, cocok dan beruntung bisa beli rumah pakai sistem ini biar makin berkah.

Selain soal riba, apa lagi yang membedakan?

Sejujurnya saya putuskan beli rumah karena tidak akan terikat hutang dalam jangka waktu yang lama. Kami pun sengaja memilih cicilan hanya selama 24 bulan agar cepat lega. Memiliki hutang rasanya hidup tidak tenang, jadi mau segera dapat rumahnya tapi hutang juga beres.

Soal pembayarannya itu juga dimudakan, karena tidak ada proses yang melibatkan pihak bank, jadi kita langsung ke developernya untuk segala transaksi. Jadi tidak seribet beli rumah cicilan yang melibatkan bank yang harus dilengkapi dengan dokumen yang super banyak.

Ada kelebihan lainnya yang belum disebutkan? Untuk nominalnya apakah terhitung tinggi?

Selain bisa inhouse sebelum lunas, pembangunan juga bisa mulai dilakukan setelah 25% pembayaran untuk kasus rumah syariah yang saya beli ini.

Rumah ini tanpa uang muka, jadi biaya total dibagi jumlah cicilan saja. 24 bulan,Saya memilih cicilan yang lumayan tinggi, meskipun sebenarnya waktu cicilannya bisa sampai 4 tahun. Seperti poster dibawah ini punya kawan kami yang bekerja di properti. Kebetulan salah satu rekan kerja dari tempat kami membeli rumah. Secara lengkapnya, kelebihan rumah syariah sudah tertulis di posternya.

Hal yang membuat rumah syariah jadi sangat menarik untuk zahro apa?

Jadi biasanya kalau beli rumah secara konvensional kan akan dikenakan lagi biaya lain-lain seperti biaya notaris misalnya. Kalau rumah syariah itu sudah termasuk semuanya; termasuk biaya surat surat dan pengurusan berkas. Jadi harga nominal yang tertera sudah satu paket lengkap. Jadi apa yang tertulis di brosurnya benar-benar sesuai.

Sebagai penutup, Zahro ada tips yang bisa dibagikan untuk bisa menabung lebih rajin?

Sebenarnya aku belum jago banget buat menabung. Seringnya nabung 3 bulan baru kumpul dikit udah harus kepake aja tapi semoga jadi belajar lebih banyak lagi. Prosesnya pelan-pelan.

sedikit tipsnya adalah, jadi setiap menerima gaji bulanan, aku langsung bagi 2, 1 ke rekening yang setiap hari atm nya aku bawa dan untuk hidup sebulan 1 ditransfer ke rekening tabungan. selanjutnya, dari uang yang dipegang dibagi ke beberapa pos yaitu: infaq, biaya sewa kos, belanja bulanan (sabun, pulsa, gula teh dan keperluan standar), makan harian, dan bbm. Untung pembagiannya minimal ada patokannya, tidak harus sama persis karena pengeluaran bulanan suka beda gitu. Sebenarnya masih suka “bengkak” disana sini, tapi gapapa ya belajar daripada keuangannya tidak tertata terus.

Untuk anggaran belanja kalau mau beli baju, servis motor, belikan teman/kerabat hadiah, itu aku ambil dari uang tabungan, mengingat pengeluaran ini bukan pengeluara rutin yang dilakukan setiap bulan. Anggaran main seperti nonton bioskop, jajan, itu pakai uang pegangan bulanan, jadi kalau bisa menekan satu pengeluaran, bisa deh dipake buat hiburan. Mengingat tidak hobi main jadi zahro merasa tidak perlu menganggarkannya sekarang. Intinya, hal yang paling utama adalah langsung dibagi dan dipenuhi tagihan bulanannya, uang pegangan bisa banget fleksibel gak harus saklek jumlahnya.

Terima kasih zahro untuk ceritanya yang menginspirasi sekali. Semoga kita semua bisa lebih rajin menabung dan dimudahkan oleh Allah untuk memiliki rumah juga, pastinya rumah syariah. Sebagai penutup, za ada kata-kata atau sesuatu yang ingin disampaikan?

Sama-sama mbak ria. Aaamiin.

Kalau boleh sedikit berbagi, sebenarnya apa yang saya jalani jauh sekali dari apa yang dulu saya bayangkan. Sebenarnya tujuannya sama untuk bisa segera lulus kuliah dan mandiri secara finansial tapi ternyata jalannya beda. Saya tidak pernah membayangkan akan kerja di bisnis yang saya kelola sendiri. Ternyata benar, sekarang saya merasakan sendiri bahwa pilihan Allah adalah yang terbaik.

Nah, itu tadi obrolan bersama Zahro. Kalau disimpulkan, keuntungan dari properti syariah ini dapat disimpulkan diantaranya mampu beli rumah tanpa riba, tanpa denda, tanpa bank serta tanpa sita. Dalam melakukan transaksi properti syariah, pembeli dapat secara langsung bertransaksi dengan developer kemudian memilih sistem pembayaran apakah akan membayar secara cicilan atau cash. Pada akhirnya rumah syariah bisa secara langsung menjadi milik anda sebagai pembeli tanpa adanya agunan atau jaminan pada saat dilaksanakan akad jual beli.

Kalau teman-teman pembaca ada yang punya pengalaman jual beli secara syariah, cerita juga ya di kolom komentar dibawah 🙂 sampai bertemu di postingan Berwawancara berikutnya.

Tinggalkan Komentar