Berwawancara

#Berwawancara 1 Rachmad Hadjarati; Memutuskan Lulus 7 Tahun.

Halo. Berwawancara pertama akan menghadirkan Rachmad Hadjarati, Mahasiswa Fakultas Hukum UB angkatan 2010.

#Berwawancara akan membahas soal pengalaman Bang Mad (begitu biasa saya menyapanya) tentang keputusannya untuk lulus kuliah 7 tahun. Saya pribadi cukup kagum, karena prinsipnya “Yang baik jadikan teladan, yang buruk jadikan pelajaran“. Saya sendiri angkatan 2012, diangkatan saya 70% lulus tepat waktu, sejak masuk semester 7 saja kawan-kawan saya sudah kelimpungan tentang lulus dan mulai bicara tentang tekanan sosial. Jadi, wajar sekali jika saya kagum pada orang-orang yang memutuskan untuk lulus 7 tahun meskipun penyebabnya receh seperti hanya karena malas misalnya. Saya tetap beryakinan bahwa mereka berani melawan asumsi dan ekspektasi adalah hal berani. Intinya kembali ke prinsip diatas.

Membahas kembali persoalan lulus 7 tahun pada kembali mengingat tahun 2014 mahasiswa sempat dikagetkan dengan batas waktu kuliah hanya 5 tahun. Tentu saja ini menjadi polemik karena Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 49 tahun 2014 dituding beberapa ayat yang multitafsir terutama pasal 17 ayat 3. Protes mahasiswa, dosen, serta pengaduan dari masyarakat pun berujung pada Uji publik. Masa uji publik selesai 15 September 2015 dan batas masa studi yang dirancang adalah 7 tahun akademik. Selengkapnya bisa kawan-kawan baca disini. Baiklah mari kita mulai saja.

Halo Bang mad.

Halo Ria.

Perkenalkan dong, Bang mad mahasiswa fakultas apa, semester berapa dan asal darimana?

Gue Rachmad. Nama panjangnya Rachmad Hadjarati. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Udah bukan semester akhir lagi, tapi semester terakhir. Asli dari Gorontalo.

Bicara soal semester terakhir, itu keinginan atau paksaan keadaan?

Mau dibilang keinginan, gak juga. Paksaan keadaan? Paksaan hawa nafsu lebih tepatnya. Kalo inget dulu-dulu ya jadinya gak nyesel. Tapi pengen gak diulang lagi di masa depan. Pendewasaan diri terhadap waktu emang sedikit banyak (lebih banyak sih) terlambat dari kawan seumuran.

Bicara soal waktu, apakah keputusan untuk lulus 7 tahun disesali atau tidak untuk sekarang?

Dalam hidup, kadang suka kesel sama orang yang sedikit-sedikit nyesel. Gue lebih sering fokus untuk menambal ban yang bocor daripada menyesali kenapa lewat jalan sini tadi. Sambil akan terus berhati-hati ke depannya agar tak terjadi lagi. Itusih pandangan gue terhadap nyesel. Silahkan dimaknai itu nyesel apa kagak.

Kalau bisa mengulang waktu, ingin tetap lulus 7 tahun?

Pertanyaan tersulit untuk saat ini. Gue gak mau boong gue pengennya dulu lulus cepat. Tapi untuk segala pengalaman yang gue dapet ampe semester terakhir ini belum tentu bisa gue dapet kalau lulus cepet. Ya mungkin juga gue akan mendapatkan pengalaman yang berharga kalau gue lulus cepet di lain sisi. Tapi ya itu. Di umur 26 dan tahun terakhir kuliah tingkat wise gue mendadak naik drastis; jadinya suka banget mensyukuri apa yang gue punya. Bukan berarti juga gue udah berhenti untuk mencapai mimpi. Akhirnya gue lebih berat untuk tidak mengandai-ngandai.

Ya atau tidak?

Gue gak mau mengandai-ngandai bisa gak? Tapi kalo lu maksa, gue lebih memilih untuk mengulang untuk 7 tahun lagi. Setidaknya gue tau apa yang akan gue rasa lagi nanti. Hehe.

Seru sekali sepertinya pengalaman 7 tahun ini. Respon keluarga seperti apa?

Keluarga di tahun ke-6 dan ke-7 baru panas. Awalnya santai. Sekarang masih semangat untuk terus menggenjot anaknya agar segera lulus.

Salam untuk Ibu, pasti beliau wanita yang sabar. Bang mad pernah merasa “gerah” oleh sikap keluarga?

Pernah merasa? Kadang. Dulu sih. Sekarang lebih banyak diem kalo dinasehati. I just have no reason anymore.

Bang mad juga mungkin sering mendengar soal “lebih baik lulus cepat atau tepat?” dan lebih banyak memilih lulus cepat. Menurut bang mad apasih indikator untuk berpikir “oke, gue emang udah harus lulus nih”.

Ini yang gue bingung nih. Semakin gue baca, semakin gue denger dan liat banyak hal, semakin gue kalah sama keadaan mungkin ya. Jadi alasan kayak gitu semakin gak relevan sama gue. Untuk lulus cepat atau tepat, itu buat orang-orang yang menurut gue merencanakan hidupnya dengan bagus. Lah, gue? Dari dulu ngalir mulu. Gue gak pernah tau kapan gue harus lulus, sampe gue ngerasa gue harus segera lulus. Kalo gak lulus DO. Indikator? Ya itu. Tergantung rencana dan bencana yang menimpa. Menurut gue gak ada ukuran pasti.

Sebelum di FH UB, bang mad pernah kuliah sebelumnya bukan? Ceritakan dong kenapa berpindah jurusan dan kampus.

Jadi di awal gue kuliah, itu gak langsung di FH UB. Tapi di D3 Teknik Informatika UNG. Semua berawal ketika gue lulus SMA, SNMPTN nembak HI UI tanpa persiapan yang matang. Bisa bayangin kan gimana gebleknya? Karena gak lulus, gue ambillah ujian lokal untuk ambil D3 Teknik Informatika. Kenapa informatika? Karena dari SMA emang udah senang sama sesuatu yang berbau IT. Nah di semester 2 waktu itu, disuruhlah ambil SNMPTN lagi. Ujian, lulus, FH UB deh. Ambil FH UB disuruh orang tua. Pun akhirnya tetap cinta juga.

Berarti total 8 tahun ya bang hidup dengan status mahasiswa. Sehabis ini pengen lanjut S2 langsung ngk bang?

Kalo gue sih pengen bikin2 sesuatu dulu sebelum kerja atau kuliah lagi. Semisal coba bisnis atau startup atau apapun itu yang menurut gue ikutin mau sebebas gue. Abis itu mau kerja dulu. Baru kuliah lagi.

Apa rasanya menjadi lulusan 7 tahun?

Rasanya? Yaudahlah ya. Nasib. Gue pernah punya pikiran gini ketika sadar akan menanggung beban ini seumur hidup. “Yaudah. Kita 7 tahun. Jadi beban kita untuk membuktikan kita ini adalah bibit-bibit matang, bukan sisa-sisa yang terbuang.” Juga, Kalo yang lulus 4 tahun atau kurang itu jadi panutan, kita yang lulus 7 tahun jadi pelajaran.

Suka dukanya?

Yaitu. Kadang suka jadi bahan ejekan. Juga, tatanan masyarakat sekarang, kurang bisa menerima lulusan 7 tahun dengan umur 26 tahun belum punya pekerjaan dan belum berkeluarga. Penerimaan orang lain yang kurang gue suka. Sukanya 7 tahun di Malang dan di Brawijaya itu, Gue bersyukur atas semua kejadian dan peristiwa yang gue lahap selama gue ada disini. Seriously. Gue alhamdulillah bersyukur, jadi orang yang selalu mencintai apa yang tidak selalu berbentuk barang. Menurut gue semua yang gue alami, orang2 yang gue temui, kegiatan-kegiatan yang gue ikuti, gue syukuri banget. Mungkin gak akan bisa jabarkan satu-satu disini, bukan karena males, tapi saking lamanya. Termasuk ketemu lu, Bagus, Nug, Alfian, Emir, Rere, dan teman gue lainnya. Priceless.

Ceritakan Pengalaman, kawan dan kegiatan yang berkesan banget buat bang Mad.

One of the best moment gue dalam 7 tahun gue di kampus adalah saat gue beramanah di Eksekutif Mahasiswa (EM) UB 2014. Disana gue bersyukur ketemu sama orang-orang super yang membongkar zona nyaman gue. Menteri Kastrat sekaligus teman sekamar gue, teman diskusi paling gak nyante, Bagus. Versi perempuannya mungkin, Dirjennya Bagus pas masih di EM juga, Ria Lestari Baso. Salah satu perempuan paling gokil, paling asyik buat diskusiin apa aja; seriously apa aja dan presiden gue tercinta, Nug. Pun gak sesering mereka berdua sebelumnya, kalo orang ini udah ngomong pasti ngena mulu. Itu yang gue rasa. Yang berkesan juga, ketika harus membela apa yang gue rasa benar (dan beberapa fakta yang sengaja ditutupi) untuk mengaburkan apa saja yang terjadi, lewat sosial media. Yap, momen Pemira (Pemilihan Raya). Dimana segala macam hoax bertebaran, gue yang waktu itu make Twitter as a tool, menikmati banget bagaimana mempertahankan apa yang gue rasa dan liat benar, dan disini gue belajar bagaimana untuk bisa terus teguh dan adil dalam melihat fakta. Di Fakultas, ada CLFest sama Sekolah Intelektual Muda. Bangga banget bisa jadi bagian dari acara-acara besar. Tak sekedar besar, tapi meninggalkan jejak di alam bawah sadar para peserta maupun panitia dengan segala kenangannya.

Saya jadi penasaran, setelah menghabiskan 8 tahun dengan segala pengalamannya, pekerjaan apa yg bang mad pengen jalani?

Pekerjaan? Pekerjaan sosial itu belum terlalu detil ya? Gue pengennya bantu orang. Pengen sih, gue pengen jadi pengacara sebagai dasar gue untuk membantu orang. Baru setelah itu gue pengen punya usaha biar keuangan gue terjamin, dan gak keganggu sama itu dalam usaha gue membantu orang nantinya.

Sebagai penutup, ada pesan buat yang akan dan sedang menjadi mahasiswa?

Be the best version of you. Gue percaya setiap dilahirkan bukan hanya untuk ada bagi dirinya sendiri, tapi untuk orang lain. Mahasiswa, kita bukan lagi siswa. Nilai itu jangan dipandang hanya sebagai nilai. Banyak nilai-nilai yang gak bakal kamu dapat di dalam ruang kelas. Bukan sembari melupakan untuk mencari IPK bagus lho ya. Hanya saja jangan mendewakan. Gabungan keduanya kemudian yang akan jadi panduan buatmu kelak untuk berguna bagi masyarakat banyak.

Terima kasih banyak bang mad. Jika ingin ngobrol atau kenalan bisa lewat mana saja? Jangan lupa rekomendasikan buku dong.

Gue aktif di Twitter @rachmadhj. Bisa baca pikiran-pikiran gue di medium.com/@rachmadhj. Gue juga punya IG @rachmadhj. Buku favorit gue Cinta Tak Pernah Tepat Waktu karya Puthut EA dan Menyemai Karakter Bangsa karya Yudi Latif

Terimakasih telah membaca sampai selesai. Ohiya, kami juga mendiskusikan soal standar IPK pada mahasiswa, mungkin bisa kita obrolkan dilain waktu, ini tulisan yang kami bahas. Sampai jumpa di #Berwawancara berikutnya.

Tinggalkan Komentar