Racauan

Pecinan dan Hal Baik Dari Toko Besi Lancar Jaya

Tentang Pendatang

Jadi siapa sebenarnya yang pendatang? Orang-orang Tionghoa lebih dulu datang di Makassar dibandingkan orang-orang Bugis. Cobalah ke Jalan Jampea, kau akan lihat rumah hidup segan mati tak mau. Bukan deretan ruko mewah yang menjual emas siap saji. Saya yakin akan benar tentang itu. Teman saya masih ngotot, saya pun juga tentu ngotot. Sore di makassar rasanya jarang sekali adem.

Angin semilir sepoi meliuk melambai tentu dambaan setiap insan yang memutuskan mati dan dikubur disini. Tetap pada acara ngotot-ngototan perihal orang-orang Tionghoa. Di sela-sela itu kami setia berdebat, tentu saja mencari selembar dualembar kertas untuk “kipas-kipas” adalah hal penting. Kami ngotot berbantah argumen sambil melakukan aktivitas mahapenting diatas. Tentu saja untuk melayakkan hidup tinggal di kota yang memiliki dua matahari.

Kawasan pecinan di makassar memang tidak ramai, sama sekali tidak bahkan. Tak ada hiruk pikuk perdagangan yang menjadi ciri khas, hidup mapan yang menjadi simbol juga tak nampak. Hanya ada beberapa rumah makan kecil, penginapan murah dan toko besi. Kawasan ini terbagi atas blok-blok, didominasi rumah-rumah tua atau bahkan benar-benar tak terurus. Sementara itu, ada juga beberapa rumah yang direnovasi, entah akan dijadikan apa. Cafe kekinian mungkin ya, ah semoga tidak.

Mungkin jika rumah-rumah menjelang ambruk ini dijual akan mahal sekali harganya, kawasan pecinan berada di kawasan perkotaan paling sibuk. Berhadapan dengan pelabuhan, pintu masuknya tepat didepan kantor Balaikota. Dikelilingi kantor pemerintahan dan penunjang kehidupan lainnya. Intinya benar-benar di tengah kota makassar. Harganya bisa milyar-milyaran, senang betul saya membayangkannya. Saya menghabiskan beberapa menit berpikir, oh Tuhan kenapa tidak dijual saja? Apa sungguh mereka tidak tertarik duit, bukankah orang-orang berkata mereka hidup untuk itu.

Toko Besi Lancar Jaya

Toko Besi Lancar Jaya terletak disebelah sebuah rumah makan, tokonya tak terurus. Andai namanya diubah menjadi bahasa Inggris menjadi The Victorious dan cucu dari kakek pemiliknya membuatkan akun instagram dengan nama akun @victory_besi, tentu akan lebih ramai. Nama menentukan segalanya bukan? Kalau tidak, memang benar saya sok tahu. Disekitar toko besi diapit oleh rumah rumah dengan warna dominan putih dan tosca. Warna paling laris dikawasan pecinan.

Diluar preambule diatas, hingga hari ini mereka masih dicap pendatang. Dari saya bocah yang doyan menemani ibuk belanja ke pasar sentral sampai jadi sarjana ogah nemenin ibuk belanja lagi, tetap mereka dianggap pendatang, pengganggu kadang-kadang disebutnya. Susahnya tanah kosong untuk membangun rumah, bagi kaum kami masyarakat menengah, tentu akan menyalahkan mereka yang membeli tanah tanah untuk dibangun bisnis mereka. Mahalnya harga pangan juga karena mereka, persekongkolan antara mereka yang demi untung sampai menaikkan harga hingga tak masuk akal. Apapun yang berkaitan dengan jual beli yang menyusahkan, salah mereka. Pasti, tidak lain.

Semua asumsi itu yang membuat saya bercita-cita membuat tour Pecinan Makassar, agar mereka tahu bahwa orang-orang tionghoa tak semuanya kaya raya, apalagi memiliki rumah bertingkat-tingkat sampai mencapai langit. Agar mereka tahu bahwa disana bukan hanya berjualan emas tapi juga jual bawang sampai sepatu bekas murah.

Saya pernah tanya kepada om saya, kenapa dia membiarkan orang-orang membawa parang sambil memukuli dan membakar rumah mereka? Kenapa dia ada dirumah dan sempat ketawa menonton berita itu? Bukankah seharusnya dia disana melerai dan menjadi pahlawan kemudian viral dan dijadikan duta dengan foto senyum terpampang di sudut jalan dilengkapi kalimat super quotable yang mengingatkan kebaikan. Bawel sekali memang saya, meski dengan cara pecundang, cuma dalam hati dalam hati ngecorosnya.

Orang-orang sekitar saya padahal, saat Cap Go Meh dengan senang hati berkunjung dan menonton barongsai gratis, setelah itu kembali semula menyapa “orang cina” dengan praduga-praduga menuduh dan memandang berbeda dimulai dari fisik, sipit nih cina.

Ingatan-ingatan Yang Kembali

Saya sedikit mengingat, pada tanggal 15 dan 16 September 1997 isu sara merebak seiring demo besar anti-cina di Makassar. Kerusuhan dipicu meninggalnya Anni Mujahida Rasina yang dibantai oleh warga keturunan cina yang diduga sakit jiwa. Bencinya saya mendengar sapaan “orang cina” karena selama ditanah rantau saya juga risih dengan streotipe orang-orang ketika menyapa saya “orang makassar berarti…” dengan penilaian tanpa dasar bahwa saya bersikap kasar dan akan membakar rumahnya dengan anarkis.

Jika kawan semua penasaran dengan jawaban om saya atas pertanyaan tadi, beliau dengan tenang menjawab “mereka pantas mendapatkannya, biar pulang kekampung asal mereka saja.” Dikira kota Makassar yang menjadi pusat kemegahan Indonesia Timur ini terjadi begitu saja tanpa ada bantuan mereka.

Tolonglah, saya tidak pernah tahu mengapa kesukuan menjadi pembenaran akan semua itu. Tapi, saya tegaskan, jika nafsu belanja kawan-kawan tidak tersalurkan di kawasan ini, tapi disini sungguh banyak spot foto dan bagi yang menyukai heritage trip ini mungkin surganya. Bangunan yang meskipun lumut menjadi catnya akan sangat menarik, meskipun di malam hari mungkin akan berbeda cerita lagi.

Ya. Tentu saja saya punya teman tionghoa. Suatu hari om saya ada dirumah teman saya dan barulah saya tahu jika dia sering meminjam uang pada orang dia hina, sang pemilik toko besi lancar jaya. Hidup memang epik sekali.

Tinggalkan Komentar