Cerita Pendek

Siasat Yang Datang Terlambat

“11 tahun lalu bapak dibunuh karena persoalan kacang tanah.”

Pagi itu semuanya sama seperti biasanya, saya berangkat sekolah pukul enam pagi. Sebenarnya lonceng tanda masuk baru akan berbunyi pukul tujuh pagi dan jarak sekolah pun tak jauh dari rumah, hanya sekitar 5 menit saja. Bapak percaya bahwa ilmu harus dijemput dengan semangat, bahwa anaknya harus menjadi orang-orang awal yang memenangkan ilmu dengan awal pula datang ke sekolah. Saya tak ingin mendebat bapak perihal itu.

“Bahar, cepat pulang nak.”

Ibu Irma memanggil saya, suaranya terdengar panik dan napasnya tak beraturan. Ia  meminta saya mengemasi tas sekolah kemudian mengantarkan saya pulang. Rumah sudah ramai dengan keluarga dan para tetangga. Setelah menaiki tangga rumah, saya melihat jenazah bapak telah kaku. Wajah bapak terlihat pucat sekali dan badannya telah sempurna tertutup oleh kain. Adik perempuan saya berumur 2 tahun hanya tetawa berlarian seperti biasanya. Sementara Ibu terus saja menangis, bahkan tak peduli dengan kehadiran saya. Ibu menangis, meraung dan menurut cerita tetangga, ibu saya sudah tiga kali jatuh tak sadarkan diri.

Alif, sepupu sekaligus sahabat dekat saya tak hadir. Seharusnya ada dia untuk menghibur dan saya harapkan kehadirannya untuk membagikan kebingungan ini. Sampai waktu ketika bapak dikuburkan, saya pun tetap diam saja, terkadang menangis sebentar kemudian tak tahu harus berbuat apa lagi.

Setelah seminggu peristiwa kematian bapak berlalu, Alif baru datang. Semua tetangga keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi, saya sebenarnya tak terlalu mengerti. Dari belakang Ibu datang mengusir Alif untuk segera pergi meninggalkan halaman rumah kami.

“Datang lain waktu saja, jangan hari ini.” Ibu terdengar sedikit membentak.

Setelah itu kejadian itu, ibu masih terus menangis. Saya mulai merasa bosan. Saya tak melakukan banyak hal di rumah selain membantu persiapan untuk pengajian kematian bapak. Senin besok, saya putuskan kembali bersekolah. Seminggu meliburkan diri, saya sudah ketinggalan banyak hal tentunya.

Di sekolah, semua guru dan kawan-kawan terus bertanya perihal kematian bapak, tentang kepalanya yang terpisah dari tubuh dan kabar pembunuh yang katanya telah di penjara. Mereka terus bertanya tentang kabar Om Abdul.

“Bahar, kau dimana waktu bapakmu dibunuh?”

“Kenapa bapakmu bisa kalah melawan om Abdul?”

“Bahar, kau mau potong pakai parang juga kepala Om Abdul?”

***

Bapak terus bertengkar dengan ibu. Kau tahu bukan bagaimana harga-harga di pasar semakin menyesakkan dada. Sudah dua hari ibu memasak nasi jagung, pertanda persediaan beras semakin menipis. Bapak memang hanya kerja serabutan, sifat malasnya membuat situasi ini menjadi semakin menjadi-jadi. Ibu kadang menghasilkan uang tambahan dengan menjadi pengrajin tobang, ibu memang ahli sekali mengayam daun lontar.

Bapak mengucapkan kacang tanah dengan suara berbisik. Malam itu, bapak terus mengulang kacang tanah, kacang tanah, dan kacang tanah. Sampai adzan isya selesai, masih terus diulangnya mengucap kacang tanah.

“Kacang tanah, Alif.” begitu kata Bapak. Ada binar harapan di matanya.

Daerah kami memang terkenal akan hasil bumi kacang tanah, satu diantara sedikit sekali tanaman yang bisa tumbuh. Kami hidup tak bersahabat dengan alam, kondisinya tak memungkinkan untuk bertanam berbagai macam bahan pangan. Kacang tanah menjadi penghidupan banyak keluarga dari generasi ke generasi.

Bapak sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara teringat warisan tanah itu. Kebun kacang tanah yang masih dibicarakan pembagiannya, meskipun bagi bapak tanah itu jelas miliknya. Diantara saudara lain, bapak paling bungsu dan hidupnya paling perlu bantuan, sudah tentu tanah terakhir itu diberikan untuknya. Waktu kecil, ketika bapak diajak berkeliling oleh kakek, seingatnya kakek pernah bilang kalau tanah itu memang miliknya.

Sore hari, saya menemani ibu menganyam daun lontar. Bapak datang, mukanya merah. Dia marah kepada Om Mus karena mengurus surat hak milik tanah atas namanya tanpa seijin bapak. Sejak itu, bapak setiap hari marah, emosi kepada Om Mus.

“Mus sialan, jangan dia kira saya akan takut. Sialan betul”

“Alif, kau jangan banyak bermain dulu dengan Bahar. Temani saja ibumu di rumah.”

Bapak tidak ingin haknya diambil oleh orang lain, apapun taruhannya. Bapak sedang membela harga diri katanya. Masalah perut memang jadi perkara utama, tak bisa dilawan.

***

Sebulan setelah kematian bapak, saya mulai merasa kesepian. Ibu masih bersedih, adik kecil saya sekarang tinggal bersama Tante Nur, adik ibu yang memutuskan untuk tidak menikah setelah berkali-kali kegagalan percintaan yang dialaminya. Di rumah, ibu belum memiliki keinginan penuh untuk seutuhnya melanjutkan hidup yang baginya tak adil ini. Suaminya dibunuh oleh iparnya sendiri, karena persoalan tanah. Dalam pikirannya, suaminya tak sejahat Om Abdul. Bapak orang baik. Ah, ibu tahu bapak pasti pergi dengan terhormat, ia menjadi korban.

Saya masuk ke kamar bapak, rindu aroma keringat bapak setelah berkebun dan kadang menjadi mandor bangunan jika ada warga desa yang sedang membangun rumah. Bapak bilang cukup di desa ini yang menghidupinya, ia tak sedikit pun punya keinginan utuk mencari penghidupan di kota yang kata orang-orang bisa membuat kau membeli apa saja bahkan memiliki rumah megah sekalipun. Ada satu hal yang paling kuingat dari bapak, urat tangan bapak menyembul pertanda ia lelaki pekerja keras. Sayangnya, bapak tak pernah akan ada lagi di rumah. Saya membuka lemari bapak, kulihat ibu telah menyusun rapi pakaian bapak, dan ada botol kecil berisi cairan kuning disana.

Seminggu sebelum kematian bapak, kami ke pasar bersama, seingat saya bapak tertarik sekali mendengar pedagang yang berjualan botol berisi cairan kuning ini, dengan bantuan pengeras suara, pedagang itu berteriak dengan suara serak.

“Beli, ayo dibeli bapak ibu semua. Tak sampai hitungan jam, siapapun yang meminum cairan ini bisa meninggal, gunakan pada tikus atau apa saja yang ingin bapak dan ibu bunuh.”

Samar kudengar, ayah mengucap nama Om Abdul. Pelan sekali.

“Abdul…”

***

Alif mendatangiku di sekolah, dia tahu saya sudah mulai kembali bersekolah. Dia datang meminta maaf dan menyampaikan bahwa dia dan ibunya akan pindah minggu depan, entah untuk berapa lama. Bisa saja untuk selamanya. Dia hanya ingin menyampaikan sesuatu yang baginya amat penting sebelum dia pergi.

Saya tidak tahu alasannya membunuh ayahmu, saya juga tak mengerti persoalan kacang tanah itu, tapi mungkin ayah melakukan ini demi melindungiku.

Ia segera berlari, meninggalkanku dengan rentetan tanya yang tidak ingin kujawab. Saya tidak ingin sedikitpun menyalahkan bapak yang telah terbunuh. Semua tahu, bapak adalah korban dalam cerita ini.

One Reply to “Siasat Yang Datang Terlambat”

Tinggalkan Komentar