Cerita Pendek

Tawar Menawar Hidup

Seperti yang orang-orang katakan, dia membenci apa yang paling disukai oleh semuanya, uang.

Lelaki itu memang keras kepala; mutasi yang sering terjadi, hidup melarat, dan cicilan bank yang tak kunjung lunas ternyata belum cukup agar dia mau diajak kompromi.

Omong kosong jika dia berharap bisa membesarkan empat anaknya hanya dengan gajinya yang sejuta itu. Istri pun pasti malu, dikalangan ibu-ibu lainnya, hanya dia yang tak bersolek. Baju untuk menghadiri undangan pernikahan saja tak pernah diganti, hanya baju biru panjang yang serasi dengan jilbab yang digunakannya. Tempat belinya pun mudah ditebak oleh ibu-ibu lainnya, pasti di pasar Trojan. Motif bunga di bajunya yang meyakinkan akan kebenaran dugaan itu.

Sejujurnya, banyak yang iri atas sikapnya yang begitu teguh pada prinsip, tapi jangan harap kau ingin menjadi dia. Hanya dia yang bisa melakukannya, sepertinya dia akan menjadi satu-satunya Pegawai Negeri Sipil yang akan masuk surga nanti.

***

Setiap anak kecil yang lahir di desa Wetan akan didoakan khusus oleh orangtuanya agar kelak menjadi Pegawai Negeri Sipil. Ya, menjadi PNS. Seberapapun kau kaya dengan menjadi juragan tanah, punya warung yang laris di pasar, tapi tetaplah PNS satu-satunya profesi yang diagungkan. Seorang abdi negara, punya seragam yang gagah untuk dipakai bekerja. Aduhai, maka doa menjadi PNS akan selalu menjadi hal utama untuk diaminkan.

Slamet lahir di lingkungan desa Wetan. Sejak kecil bapak dan ibunya bekerja luarbiasa demi membayar uang sekolahnya. Kelak orangtuanya hanya bermimpi nanti di ruang tamu rumah mereka akan ada foto Slamet mengenakan baju seragam cokelat yang membanggakan dipenuhi dengan lambang yang mereka tidak mengerti apa maksudnya. Seragam itu akan semakin gagah nantinya, ada nama di sebelah kanan baju tertulis dengan huruf kapital yang indah. SLAMET.

Dalam bayangan orangtuanya, Slamet akan disegani satu kampung. Para orangtua yang memiliki anak kecil akan menjadikan slamet sebagai teladan, dan orangtua lain yang memiliki gadis akan berlomba untuk menjodohkan anak mereka dengannya. Tak ada pekerjaan lain yang begitu membahagiakan bagi satu desa Wetan selain menjadi PNS.

Geger! Warga Desa memenuhi teras rumah Slamet, mulai dari mengucapkan selamat sampai meminta Slamet untuk memegang kepala bayi yang ada di desa agar kelak mengikuti keberuntungannya. Slamet diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten. Dua hari lagi akan berangkat ke Dinas Pendidikan, tempatnya diterima bekerja.

Bapak dan ibu slamet rela mengutang pada Pak Padri, juragan sapi di desa mereka. Mereka tak mengutang uang, hanya minta membeli sapi dengan cara membayar cicil setiap bulan dengan memberlakukan bunga. Mereka sudah tak memikirkan itu lagi, yang penting hal ini harus dirayakan. Undangan semua warga untuk menikmati hidangan. Sate buatan Keluarga Slamet memang sudah terkenal, seringkali tiap hajatan pernikahan, ibu dari slamet akan diminta untuk bantu memasak, menyiapkan bumbu dan mencicipi apakah rasanya sudah enak dan layak dihidangkan bagi tamu. Koki dengan kearifan lokal yang tinggi memang.

***

Slamet, staf Bendahara resmi bekerja hari ini. Tugas pertamanya membuat anggaran dana bagi sekolah-sekolah yang membutuhkan. Dana yang besar untuk renovasi, pembangunan perpustakaan dan pengembangan sarana pendidikan seperti penyediaan komputer. Slamet tak pernah mengira bahwa angka yang dia tuliskan tak benar sampai dengan jumlah yang sama. Angka itu bisa berkurang setengahnya tapi, di laporan Slamet tetap harus menuliskan telah memberikan sejumlah itu.

Sebulan pertama slamet merasa kecewa, ia hanya kebanyakan duduk saja, kadang diajak minum kopi di kantin atau bermain game di komputer kantor yang masih baru. Ia kira aktivitas kantor akan penuh dengan suara ketikan, suara langkah yang selalu sibuk kesana kemari dan pekerjaan yang hanya berhenti hanya di saat jam istirahat saja. Kenyataan yang terjadi sebaliknya, ada pegawai yang sejak awal datang sampai dengan pulang, hanya duduk, membaca koran dan selesailah tugasnya hari itu, ia bahkan hanya membuka buku absen saja. Tak ada yang lain yang di cek olehnya atau niat dikerjakan.

Tapi bukankah hidup memang penuh perkara tak terduga? Jangan banyak protes untuk segala proses.

***

“Pak, ibu malu loh kalau tidak ikut arisan tetangga, hadiahnya juga panci dan blender kok pak, akan bisa di gunakan. Kalau nanti butuh uang, bisa dijual lagi”

“Pak, ikutlah sesekali dengan kawan lain. Tak apa sudah, yang lain juga ambil bagian, bapak ambil saja. Tak akan dosa sendirian. Hal biasa itu di kantor pak”

“Pak, bu desi bilang PNS kalau mau kaya memang harus begitu, suka genangan air. Sesekali terima uang rokok kan tidak masalah. Minggu depan Hamid bayar uang SPP loh pak. Bapak ingat kan kalau sawah sudah dijual?”

“Pak, bukannya naik haji bila sudah mampu saja? Mending uangnya ditabung untuk langsung lunasi hutang sapi keluargamu itu. Tak akan dosa bila kita tidak naik haji, tidak usah aneh-aneh pak”

“Pak, lebaran ini kita tanpa baju baru lagi?”

***

Rutin setiap dua bulan sekali, slamet menemuinya di desa. Slamet ingat ketika tetangga samping rumah menyapanya.

“Slamet, mobilnya mana?”

“Masih di tokonya Bu”

“Ah kamu ini, jadi PNS kok miskin. Rumah ibumu aja tidak kamu perbaiki, makin mirip gubuk. PNS itu harus punya mobil, kamu sudah di pecat ya?”

“Tidak bu, masih PNS kok”

“Nyesel aku. Dulu anakku tak minta untuk kamu doakan. Anakku nanti jadi PNS kaya, bahaya kalau dia miskin kayak kamu”

“Semoga bu”

Ada yang mengganjal di hati Slamet, ia tahu bahwa dirinya bisa saja membeli mobil, atau datang kekampung dengan dandan mewah yang membuat setiap mata yang melihatnya akan berbinar. Tapi, ia tidak ingin melakukan itu. Sebagai pegawai biasa yang baru saja naik ke golongan tiga, cara singkat menjadi kaya adalah dia harus mau ikut mengambil dana sekolah. Setengah dana sekolah yang hilang ternyata digunakan bersama-sama untuk kemakmuran pegawai kantor. Ada yang memakainya untuk membelikan telepon genggam baru bagi anaknya, atau sekedar bisa mengajak seluruh anggota keluarga makan di restoran mewah dengan memesan menu sepuasnya.

Slamet tidak mau melakukan itu semua! Lagipula, tak ada yang lebih enak dari sayur kelor buatan istrinya, dan untuk telepon ia tak tahu harus menggunakan untuk apa, dia bisa bertemu istri dan anaknya setiap hari. Komunikasi mereka lancar. Slamet tidak membutuhkan apa-apa selain keinginan untuk menjadikan semua anaknya sarjana. Sederhana tapi sulit bagi seorang slamet.

***

“Pak Slamet tidak marah sama Pak Rusdi?”

“Memangnya kenapa mas? Dia baik sama saya apalagi dulu waktu awal saya kerja disini.”

“Kan karena dia, bapak tidak jadi pegang jabatan. Sekantor juga jadi memikirkan aneh-ameh soal bapak karena dia.”

“Saya tidak pernah dengar langsung, kalau saya dengar langsung pasti akan saya ajak bicara.”

Satu kantor ini tahu Pak Rusli benci sekali dengan Pak Slamet, ketika dia akan dinaikkan jabatannya menjadi kepala bagian keuangan. Satu kantor menolak dan makin menolak dengan provokasi oleh Pak Rusli. Mereka mengatakan kepada Kepala Dinas bahwa Pak Slamet ini sangat kaku, tidak cocok untuk jabatan itu. Hubungannya dengan pegawai lain pun tidak baik, banyak yang tidak menyukainya.

“Pak Slamet itu sok suci sekali. Dikira masih hidup pada jaman batu”

“Benar, padahal dia kan dapat bagian yang rata. Kita adil dalam membaginya”

“Makanya itu. Kalau diajak istirahat pun keluar kantor, maunya cepat kembali bekerja. Apa dia selingkuhan hantu kantor disini apa, suka sekali dia bekerja”

“Makanya pak, Seumur hidup posisinya akan sama sebagai staf saja kalau dia tidak mau ikut bermain. Biar tahu rasa.”

“Pak Slamet itu kira uang turun dari langit, ya mesti diusahakan. Pakai cara apa saja tak masalah asalkan tidak ada yang merasa rugi. Semua sama-sama senang” sahut Pak Rusli mengakhiri perbincangan sore itu dengan kawan sekantornya.

***

Hamid, Mila, Nia hanya memilih selisih umur satu tahun saja, sehingga mereka bertiga kini berada bersamaan di universitas, di kota yang berbeda pula. Demi bersikap adil pada semua anaknya, Pak Slamet dan istri tak pernah mengunjungi mereka. Uang tak akan cukup untuk berkunjung ke tiga kota  itu sekaligus setiap tahunnya. Maka pesan Pak Slamet, mereka saja yang pulang ke rumah ketika liburan, itupun kalau sedang ada sisa uang jajan. Tak usah dipaksakan. Togi, anak paling bungsu dimasukkan ke sekolah asrama. Pak Slamet dan istri hanya tinggal berdua saja dirumah.

“Dulu ya karena Bapak nakal makanya susah begini bayarnya”

“Anak kan tidak bisa diminta Bu kapan datangnya”

“Tapi masa berurutan begini setiap tahun ada bayi dirumah, sekarang begini jadinya. Bayar uang kuliah anak harus tiga orang sekaligus”

“Nanti bapak carikan. Ibu tolong bikinkan kopi tanpa gula. Bapak sakit kepalanya ini.”

“Ya memang kita gulanya sudah habis Pak”

***

Sore itu, satu jam sebelum kantor tutup, para pegawai sudah mulai meninggalkan kantor. Hanya ada 2 motor saja yang masih terparkir. Motor Pak Slamet dan Pak Rusli. Pak Rusli sedang ada kerja proyek, makanya jam segini masih betah berada di kantor. Sebelum ke parkiran, Pak Slamet hendak pamit pulang duluan, dalam pikirnya juga ingin mengajak bicara persoalan mereka.

“Pak Rusli, katanya bapak ini benci sama saya. Kalau saya ada salah, dimaafkan ya pak.”

“Ya makanya anakmu si Mila nikahkan sama aku, dulu kan sudah kulamar, tak usah repot kuliahkan dia, biar aku biayai hidupnya. Kamu ini memang sombong sekali Slamet dengan menolak lamaranku.”

Tinggalkan Komentar