Cerita Pendek

Kegemaran Memancing Ikan

Sebelum meninggal nanti, dia akan berpesan pada anaknya, jangan lupa bergosip, setiap hari jika kau bisa. Dalam benaknya, begitu dia merencanakan isi surat wasiatnya itu.

Dia perempuan sederhana, memiliki seorang anak berusia 7 tahun yang setiap pagi dia suapi sarapan di depan rumahnya sebelum berangkat sekolah. Suaminya seorang pekerja kantoran, tiga tahun sekali ia kerap berpindah tempat tugas. Permasalahan yang sama harus dihadapi; tetangga baru, lingkungan baru dan juga bahan untuk bergosip dengan orang-orang baru.

“Saya mita, baru saja pindah di Muara Banta dua hari lalu. Mbak tinggal di kompleks ini juga?”

“Oh iya, saya Susan. Rumah saya yang tepat di samping rumah kontrakan Mbak Mita. Saya biasanya baru keluar rumah memang pada sore hari karena seharian bekerja. Mbak Mita pindah kerja dimana di Muara Banta?”

“saya hanya ibu rumah tangga mbak. Suami saya yang pindah kerja”

“oh begitu. Saya pamit masuk ke dalam dulu ya mbak.”

Jangan kau pikir bahwa kompleks ini di huni oleh ibu-ibu tua yang sorenya dihabiskan untuk mencari anaknya karena tak kunjung pulang dengan alasan bermain sepeda, atau berharap menemukan ibu-ibu berdaster yang setia menunggu penjual sayur pada pagi hari. Bukan, kompleks ini memang tak seperti kebanyakan yang kita lihat.

“saya Mita, baru saja pindah di Muara Banta. Mbak tinggal di kompleks ini juga?”

“ohiya mbak, saya Narti. Rumahnya yang mana?”

“Ujung kanan sana mbak, yang di terasnya itu suami dan anak saya. Mbak suaminya masih dikantor ya?”

“saya belum menikah mbak”

“oh, memang jodoh suka telat datangnya. Ditunggu saja.”

“iya mbak, semoga”

***

Seminggu, setelah kepindahan wanita itu terlihat kebingungan, ia belum menemukan teman terbaiknya untuk banyak menghabiskan waktu dengan bergosip, membicarakan bapak pemilik kontrakan atau sekadar mengobrol perihal mengapa warung depan kompleks mereka bisa ramai padahal rasanya tak enak sama sekali. Jika kau mencoba beberapa menunya pasti kau akan setuju dengan wanita ini, rasanya memang tak enak tapi antrian pembeli sungguh banyak sekali. Konon katanya warung itu milik istri pertama dari pemilik kontrakan, sejak sang suami telah memiliki istri muda, ia harus berjuang menyekolahkan 3 orang anaknya seorang diri, sang suami tak lagi ingin mengurusnya, ia hanya diberikan sebidang tanah sebagai tanda perpisahan. Sebidang tanah itulah yang kini menjadi warung ayam goreng yang terkenal laris itu.

“bungkus, ayam gorengnya satu.”

“iya ditunggu ya, warung sedang ramai. Mbak warga baru ya di kompleks depan?”

“iya bu, nama saya Mita”

“kenalkan saya Bu Ajeng, pemilik warung ini. Sering main kesini ya Mbak Mita, sekarang saya kebanyakan karyawan jadi kadang cuma duduk-duduk saja di warung tanpa ada teman bicara karena semuanya sibuk melayani pembeli”

“boleh, besok saya kesini lagi, kalau cuma mengobrol tanpa beli ayam tak apa kan bu?”

“soal ayam gorengnya bisa diatur, nanti saya kasi cuma-cuma sebagai tanda perkenalan”

Kau tidak percaya? Sungguh, bergosip adalah modal sosial. Penerimaan akan lingkungan dengan cara paling gampang adalah kau tahu tentang apa saja yang dibicarakan orang-orang sekitar, mengapa pesohor itu bisa tega merebut suami orang lain? Atau mengetahui kebenaran apakah artis memang memakai susuk agar mereka selalu terlihat cantik.

“Mbak Mita, mari masuk”

“terima kasih Bu Ajeng, kali ini saya tak datang untuk membeli ayam goreng seperti tempo hari.”

“Mbak Mita bisa saja. Sudah kenalan sama Narti? Kasian dia, usia sudah kepala tiga tapi tak juga kunjung menikah. Makanya jadi wanita jangan sukses sebelum menikah, kan lelaki minder buat ngelamar, iya kan Mbak Mita?”

“sudah kenalan bu. Astaga kasian betul, mending seperti saya berarti yang cuma ibu rumah tangga”

“Nah betul mbak. Atau kayak Susan, dia cantik, suaminya gagah sekali tapi belum punya anak. Perempuan tak pernah sempurna tanpa anak ya mbak”

“oalah Mbak Susan itu mandul ternyata. Suaminya biar kawin lagi aja berarti daripada kasian punya istri mandul.”

“makanya Mbak Mita hati-hati kontrak rumah di kompeks, nanti kesialannya menular loh.”

***

Tiga puluh tahun lalu, seperti perempuan yang baru saja pindah itu. Bu Ajeng telah lebih dulu berjuang untuk mendapatkan penerimaan.

Jangan kau remehkan kekuatan bergosip. Kau bisa menerima kenyataan bertebarannya akun media sosial gosip dengan pengikut jutaan orang, tapi kau tak percaya bahwa gosip pula yang membuatku sukses ditempat ini.

Tanah ini memang tanah impian 30 tahun lalu, bersama suami kami rela meninggalkan kampung halaman. Tak peduli apapun kata orang di kampung kami saat itu, janji akan tanah dan pekerjaan sudah cukup bagi kami untuk ikut kesini, menurut apapun kata pemerintah.

Tanpa sanak keluarga, kami berangkat. Kau tahu, seseorang buruh pemetik kopi ingin pindah ke tanah harapan agar memiliki tanah luas, seperti juragan di kampung halaman. Bahkan, sebelum berangkat ke tanah harapan, kami sudah sering mengkhayalkan senyum akan sambutan setiap kami pulang karena kesuksesan. Kesuksesan untuk memiliki semuanya dengan cuma-cuma saja.

Tapi hidup memang bukan sahabat yang baik. Setelah sampai, semua tak semudah itu. Hal terberat tetap tinggal di kampung halaman adalah cemooh dari orang sekitar tentang kami yang hanya akan jadi buruh seumur hidup, rumah yang selamanya akan begitu saja bentuknya dan anak-anak dengan nasib tak jauh berbeda dari orang tuanya. Disini, tak apa kami hidup susah dahulu, tak ada yang mengenal kami, tak perlu malu sama sekali. Kami tetap bisa berpura-pura tentang cerita sukses kami di tanah harapan ketika mengirim kabar ke kampung halaman.

***

“Wah ada Mbak Susan, mau beli ayam goreng atau bakar?”

“Ayam goreng seperti biasa saja bu”

“Ditunggu ya. Sekarang komplek rame ya mbak, katanya ada orang baru pindah lagi ya”

“Iya bu, kemarin ada yang di rumah ujung itu. Katanya minggu depan ada orang baru lagi yang akan pindah”

“Makin rame ya mbak, semoga warung saya ikut tambah rame. Mbak susan kenal sama penghuni baru kemarin?”

“tidak bu, hanya pernah berbincang sekali saja.”

“Oalah. Padahal dia itu hanya ibu rumah tangga loh, tidak bekerja. Harusnya kan bisa ajak kenalan dan ngobrol sama tetangga terus ya, pengangguran kok sok sibuk begitu”

“Iya bu…”

***

Sejak hari itu, perempuan itu akrab sekali dengan Bu Ajeng. Dari pesohor sampai dengan para tetanga tak ada yang luput menjadi pembahasan mereka. Rasanya, kadang ada yang dibahas berulang kali tanpa mereka pernah merasa bosan.

Kehidupan perempuan itu juga semakin sibuk saja, dari sore ke sore untuk mulai bergaul dengan para tetangga, hal itu membuatnya melupakan bahwa suaminya terlalu sibuk bekerja. Hanya bertemu di pagi hari saja ketika sang suami akan berangkat kerja dan perempuan itu bersiap untuk mengantarkan anaknya ke sekolah. Dia pun mulai tertarik untuk berjualan juga seperti Bu Ajeng dan semakin seringlah ia berada di warung itu. Perempuan itu masih bingung memilih harus berjualan pakaian atau sebaiknya berjualan perabotan rumah tangga.

“Mbak Mita kenalkan, ini tetangga baru di kompleks, namanya Mbak Rani. Mbak Rani ini baru saja pindah tiga hari lalu, baik sekali dia, sejak kepindahannya pasti kalau beli makan siang dan malam selalu disini. Kadang suka borong juga buat belikan makan siang teman sekantornya.” sapa Bu Ajeng sambil memperkenalkan tetangga baru yang lebih menyita perhatian Bu Ajeng. Seperti hal lain, teman datang dan pergi. Bu Ajeng lebih senang sekarang bersama tetangga baru itu. Sudah ku nasehati wanita itu sejak awal, jangan berharap banyak jika kau baru mengenalnya seminggu saja.

***

Perempuan menyuapi anaknya di pagi hari seperti biasanya, suaminya tak pulang tadi malam.

“Mbak Mita, saya ingin menagih uang kontrakan bulan maret.”

“oh iya Pak Amran, maaf suami saya belum pulang, jika sudah ada nanti saya yang antarkan ke rumah bapak”

“oh suami Mbak Mita masih di luar kota bersama Mbak Narti ya? Sudah jadi pembicaraan orang-orang kompleks sini kok”

Perhatian yang terlalu banyak tercurah untuk mengurusi hidup orang lain, dan sekarang tentu kau tahu bukan kenapa warung Bu Ajeng ramai sekali?

Tinggalkan Komentar