Suka Film

Mencari Hilal (2015): Memaknai Kembali Perbedaan

Kebenaran apalagi sih pak, kebenaran versi siapa dulu yang kita omongin ini…Semua ngerasa paling ngerti tentang kebenaran Allah pak, semua ngerasa paling bisa ngebenarin orang lain.  Tak terkecuali orang-orang yang kita temui kemarin, teman bapak yang Ustads yang coba nipu rakyat, orang-orang yang coba ngelarang orang lain untuk ibadah…Aku lebih ngk ngerti lagi, kenapa Tuhan ngebikin kita beda, supaya apa? supaya saling bunuh-bunuhan. Kenapa ngk bikin sama aja. Apa Tuhan cuma bikin ini untuk iseng…Bapak ngk takut selama ini yang bapak percayai salah?

Film ini rilis pada 15 Juli 2015 dengan durasi 94 menit. Film yang hadir dengan genre Drama yang terasa sekali nuansa releginya. Mencari Hilal adalah film yang disutradarai oleh Ismail Basbeth, sutradara yang pertama kali saya kenal melalui karyanya berjudul Shelter (2011) yang akhirnya menggarap film komersial perdananya berjudul ‘Mencari Hilal’. Film ini dinaungi oleh beberapa rumah produksi seperti MVP Pictures, Studio Denny JA, Dapur Film, Argi Film, dan Mizan Productions.

Setiap orang memilih jalan yang berbeda, jika si ayah memilih jalan A, maka jangan pastikan bahwa anaknya pun demikian. Kehidupan dimaknai sebagai proses untuk memahami perbedaan, bagaimana kita bisa bertoleransi dan hidup rukun saling berdampingan. Film ini berhasil bercerita tentang perbedaan, tentang bagaimana kita memaknainya dan hidup dalam perbedaan tanpa pernah mempermasalahkan.

Mencari Hilal (2015)

Tokoh Mahmud yang diperankan dengan apik oleh Deddy Sutomo adalah seorang yang sangat taat beragama, segala sesuatu dilakukan atas dasar agama. Diawal film, kita diperkenalkan bagaimana cara Mahmud berdakwah, terkesan menggurui dan tak segan menceritakan penyiksaan neraka ketika melihat orang melakukan dosa dihadapannya. Namun, hidup memang tak pernah baik-baik saja, Heli (Oka Antara) adalah putra Mahmud yang berbeda sekali dengan ayahnya, Heli tidak taat beragama.

Pencarian Hilal yang berlangsung selama bulan Ramadhan pun menggambarkan betapa beda ayah dan anak ini, sang ayah bahkan meminta supir bus untuk berhenti ketika sudah masuk waktu shalat, sementara sang anak asik saja minum disiang hari. Perbedaan cara menjalani hidup inilah yang kemudian menjadi kerikil di hubungan antara ayah dan anak ini.

Memaknai Perbedaan

Perjalanan awal Mencari Hilal, dimulai dari rasa tergelitik ketika mendengar berita bahwa sidang untuk menentukan hilal menelan biaya yang amat tinggi, mencapai milyaran rupiah. Mahmud yang sudah uzur ini tergerak untuk mengulangi tradisi mencari hilal yang pernah dilakukannya sewaktu muda di pesantren. Menurutnya, hilal adalah gerbang menuju Fitri.

Bertepatan dengan waktu itu, Heli yang sudah tidak lagi dianggap keluarga kembali ke rumah ditengah kesibukannya sebagai aktivis. Kedatangannya bukan untuk kampung menjelang lebaran, melainkan hanya ingin meminta bantuan kakaknya Halida (Erythrina Baskoro) dibuatkan paspor yang akan digunakannya untuk pergi ke Nicaragua. Sang Ayah ingin pergi mencari hilal, sang anak ingin pergi ke Nicaragua sebagai aktivis. Sebagai kakak, Halida memutuskan Heli harus menemani Mahmud untuk mencari hilal jika ia ingin paspornya selesai.

Mencari Hilal bisa dikatakan sebagai road movie. Film tentang perjalanan yang merubah tiap tokohnya. Meski awal film kita disajikan penuh perspektif tokoh Mahmud dalam memandang agama namun saat perjalanan telah dimulai, hal tersebut berubah. Porsi tokoh Heli dalam penceritaan meningkat, Heli memberikan hal yang berbeda dibandingkan Mahmud sehingga menjadikan penceritaan Mencari Hilal lebih seimbang. Memperlihatkan dua sisi yang dapat kita telaah bersama tentang baik dan buruknya dan memahami perbedaan di antara dua tokoh ini.

Dalam perjalanan mereka mencari hilal, ayah dan anak ini bertemu dengan beraneka ragam perbedaan yang ada di negeri ini. Menggambarkan beberapa isu intoleransi yang sudah tidak lagi asing di telinga kita. Film ini tidak berusaha untuk membenarkan atau menyalahkan. Hanya memaparkan hal-hal yang harus kita sadari bersama dan kemudian menjadikannya bahan diskusi. Isu yang dihadirkan pun beraneka rupa, saya terbawa dengan suasana yang diciptakan dalam setiap adegan. Salut.

Selain ide cerita yang rasanya benar-benar ditulis dengan ciamik sekali, membuat saya mengapresiasi penulis naskah Salman Aristo, Bagus Bramanti, Ismail Basbeth. Akting Deddy Sutomo dan Oka Antara luar biasa di Mencari Hilal, seakan menonton ayah dan anak sungguhan sedang ngobrol. Akting mereka sangat natural, penuh emosi namun sesekali tetap jenaka. Tata visual film ini menjadikannya sangat enak untuk dinikmati. Ismail Basbeth memang tak pernah mengecewakan. Film religi terbaik yang pernah saya tonton dalam sejarah film di Indonesia, bak makanan gurih, menontonnya filmnya terasa nikmat sekali. Film ini berhasil memunculkan kesadaran baru, persepektif baru dan hal-hal yang patut direnungi bersama untuk terus hidup rukun dalam perbedaan.

Tinggalkan Komentar