Cerita Pendek

Pesan Seharga Rp 21 Ribu

Lelaki yang mengenakan kemeja merah adalah ayahku, jika kau lihat disampingnya ada perempuan berwajah tirus dan memiliki kulit hitam manis maka itu adalah ibuku.

Ibu memang gemar memakai lipstik berwarna cokelat pucat, tak usah kaget jika melihatnya. Sejujurnya, aku tak tahu betul nama mereka. Kadang kudengar dari sini, orang-orang memanggil ayah dengan sebutan “Par” dan ibu hanya dipanggil dengan sebutan “Na”.

“Na, kok bisa?”

“Kamu kan tahun depan sudah harusnya berangkat menggantikan ibumu. Kok ya bisa hamil begini.”

***

Aku hidup berdua awalnya, sebulan lalu teman bermainku luruh. Ibu bilang itu sebuah musibah, meskipun aku tahu bahwa ibu sebenarnya meminum sesuatu untuk meluruhkan kami berdua. Aku selamat. Ibu bersedih beberapa hari karena merasa belum sepenuhnya berhasil. Di awal, kukira ibu akan mengurungkan niatnya, ternyata ibu tetap meminumnya ditemani oleh ayah yang terus memaksa dengan sedikit membentak.

“Bagaimana ini?”

“Aku juga tidak tahu na, tapi ingat jangan kau memberitahukan siapapun dulu. Siapapun!”

“Perutku makin besar, menyembunyikannya pun percuma.”

“Sudah, kau menurut saja. Sial memang, alat murahan itu tak berguna. Aku khilaf”

Dari dalam sini aku bisa mendengar apapun. Pernah kudengar ibu bercerita tentang kata khilaf. Sekarang ayah yang menghamili ibu juga menggunakan alasan khilaf. Kata ibu, semua orang bisa membela diri dan menjadi tak bersalah hanya dengan mengatakan bahwa ia khilaf.

***

“Buk, sejak kapan di rumah?”

“Ibuk sudah berhenti. Ibuk memutuskan pulang karena kamu Na. Menyesal ibuk pergi meninggalkan kamu di rumah sendiri. Ibuk maunya kamu sekolah baik-baik. Sepeninggal mbah kulihat kau memang makin aneh saja. Itu apa pakai lipstick begitu, masih bocah.”

“Buk, aku tahun depan tetap gantikan ibu jadi TKW kok bu. Tahun depan, sesuai rencana setelah kelulusan”

“Berhenti kamu bicara. Urusi dulu itu isi dalam perutmu”. Ibuku kaget. Ibu mundur beberapa langkah. Aku ikut terguncang didalam sini. Ibuku mengobrol dengan orang yang dipanggilnya “Buk”. Nada bicara ibuku melunak, ibu ketakutan sekali.

***

Jika ditanya, aku sebenarnya ingin menyusul teman bermainku saja. Aku ada tapi sesungguhnya tak seorang pun mengharapkan kehadiranku. Aku pun tak pernah tersebut dalam doa untuk hadir apalagi diharapkan untuk membahagiakan banyak orang. Tak pernah kurasakan ibu membelai atau ayah sesekali saja membacakan dongeng untukku. Aku ingin luruh, keluar dari sini. Gelap.

Bapak bilang ke ibu bahwa ia sudah membeli alat seharga rp 21 ribu. Isinya ada 24. Bapak dan ibu sudah menggunakan benda itu sebanyak 7 kali menurut cerita, tak dilanjutkan lagi sejak aku ada.

Sepengetahuan mereka, dengan alat itu, ibu dan bapakku tak perlu khawatir tentang kehadiranku. Ibuku tetap bisa melanjutkan sekolah dan lulus SMA tahun depan. Bapak tentu bisa terus mencari pekerjaan yang sudah bertahun-tahun tak dimilikinya, bapak pengangguran. Meski tak punya pekerjaan, bapak gemar membakar kretek, sehari ia terus mengepul asap di wajah sebagai hiburan bagi dirinya sendiri. Kau tahu bukan, menertawakan nasib dengan mengobrol pada diri sendiri memang sangat menghibur hati.

Peristiwa itu kali pertama untuk ibuku. Saat ibu pulang sekolah, bapak sudah menunggu didalam rumah. Kata bapak, ia hanya ingin menumpang minum dan istirahat sebentar saja, kemudian meminta untuk menumpang tidur malam itu karena kecapean jika harus berkendara pulang. Ibu kebingungan dan hanya bisa mengiyakan, mudah sekali baginya untuk mengiyakan ajakan bapak untuk kali kedua dan seterusnya.

***

“Pokoknya jangan menikah dengan dia. Sudah cukup ibu saja yang mengalami kehajatan lelaki bejat seperti bapakmu.”

“Kumohon buk”

“Kau tak ingat, enak tahun lalu bapakmu meninggalkan kita. Ibu yang bekerja sebagai TKW ini hanya bisa percaya pada bapak untuk menjagamu. Tapi apa ha? Ia pergi membawa harta kita, hasil kerja keras ibu dan hilang entah kemana.”

“Par itu tidak seperti bapak bu.”

“Bocah kamu. Sudah lebih pintar dari ibu sekarang? Mau makan apa kau nanti?. Jangan pernah kau menikah dengan si par itu. Tak sudi Ibu.”

“Buk, aku mencintai par.”

***

Dua hari lagi kata ibu aku akan lahir. Aku akan melihat dunia, menatap seperti apa rupa ibu dan bapak. Aku akhirnya tak merasa sendirian lagi. Ibu juga sudah mulai sering membelaiku. Dalam tebakanku, ibu sudah mulai menyayangiku. Ia berjanji akan membuatkan aku ranjang yang paling nyaman dan membelikanku pakaian terbaik. Ibu mulai berubah, ia menerima kehadiranku. Ibu bercerita tentang keluarga impiannya, ia akan menjadi ibu yang membesarkanku dan mengantarkanku ke sekolah nantinya.

Aku tersentak,

“Pokoknya setelah melahirkan nanti, bayimu langsung ibu bawa ke kampung Tanen. Kau lupakan saja pernah mengandungnya. Kau lanjutkan sekolah dan tahun depan tetap bisa menggantikan ibu ke Taiwan. Bayi itu aib, tak ada untung memilikinya. Sudah syukur ibu tak minta kau menggugurkannya.”

“Buk, aku ingin jadi ibu.”

“Ibu tak butuh persetujuanmu untuk melakukan itu. Percayalah, par yang kau cintai itu adalah lelaki biadab, ia hanya akan menyusahkanmu”

***

Besok hari lahirku. Hari ini ibu banyak sekali bergerak, seharian ini pula kudengar suara bapak mengobrol dengan ibu.

“Ini, datanglah pukul 10 malam nanti. Masuk lewat jendela kamarku saja.”

“Kau yakin melakukan ini?”

“Iya, demi kita.”

Siang ini ibuk sibuk membersihkan seluruh rumah, dirapikannya seluruh barang-barang. Ia juga mengambil surat dan barang penting dari kamar sebelah, termasuk mengambil telepon genggam yang terletak di meja ruang tamu.

“Masuklah. Aku tunggu kau disini. Setelah melakukannya aku menunggumu dikamar ini, kita bisa tetap menetap disini selamanya. Jangan lama-lama ya. Aku membutuhkanmu.”

Sambal menunggu bapak, ibu memasukkan beberapa pakaian ke dalam lemari. Ia teringat telepon genggam yang diambil tadi sore, ia membuka pesan dan membaca beberapa sekadar membunuh waktu. Isi pesan masuk hampir seluruh dari seseorang bernama Pak Rusli. Ibu buka beberapa pesannya, ia membacakan untukku sebagai dongeng malam ini.

kenapa tak kau beritahu anakmu kalau par itu bajingan. Dia pernah menggodamu, dia hampir menyetubuhimu waktu itu sebelum kau berangkat. Dia pun punya hutang yang tak kunjung dibayar padamu. Kau ceritakan lengkap pada anakmu. Biar dia sadar ibunya melindunginya. Aku tahu kau menjaga perasaannya, tapi jangan bodoh. Cepat kau beritahu anakmu.

Ibu berlari ke kamar sebelah. Dadanya sesak, nafasnya tak beraturan. Rasanya dunia berhenti saat itu, tapi waktu memang bukan teman yang baik. Ibu melihat ibuknya telah berlumur darah. Ia sudah melepas nyawanya dan Par tersenyum pada calon istrinya dan anaknya karena telah menyelesaikan tugas dengan baik.

Ibu lupa pesan yang tertulis di pintu masuk kamar sendiri,

Jangan pernah bermimpi menjadi ibu yang baik dengan cara menjahati ibumu sendiri. Itu melawan semesta.

Tinggalkan Komentar