Racauan

Rumput Tetangga Selalu Lebih Hijau

Sore kemarin, sembari menunggu pesanan datang di sebuah rumah makan, saya teringat kembali perbincangan dengan kawan saya yang memutuskan resign dari pekerjaannya. Sebuah pekerjaan menjanjikan yang mungkin saja itu impian ratusan orang diluar sana. Dia bilang, pekerjaannya tak membuatnya semangat saat bangun di pagi hari. Ketika waktu tidur tiba ia merasa tak tenang dan mulai membayangkan besok akan kembali sibuk dengan rutinitas yang itu-itu saja, terus berulang. Ia menginginkan sebuah pekerjaan yang membuatnya merasa hidup, bukan hanya sekadar memiliki aktivitas kerja layaknya orang normal. Kini, kawan saya itu mengabdikan dirinya menjadi pekerja sosial sembari terus menabung untuk membuka bisnis kecil-kecilan. Sebuah pilihan yang tak akan menghadirkan banyak pujian. Sukses baginya ternyata dengan menjadi jembatan kebahagiaan bagi orang lain. Itulah sebuah kemewahan, katanya.

Ini memang tentang keputusan hidup, prinsip yang kita percaya seharusnya membawa kita pada kesadaran untuk tak terlalu banyak menengok kehidupan orang lain.

Terkadang,

Kita merasa bahwa kehidupan orang lain terlihat lebih menyenangkan dan mulai untuk membandingkan diri kita dengan orang lain tentang pekerjaan, kisah cinta atau pilihan hidup lain.

Mereka yang terlihat lebih bahagia, memiliki kehidupan yang kita harapkan dan kerap membagikan hal-hal yang ingin kita miliki di hidup ini.

…rumput tetangga memang selalu lebih hijau kelihatannya.

Tapi pernahkah kita berpikir kalau ini hanya persoalan cara pandang saja? Bagaimana kalau mereka ternyata sedang menginginkan kehidupan kita?

…rumput tetangga memang selalu lebih hijau, tapi apakah dihalaman itu hanya ada rumput saja? Bukankah bunga warna-warni yang kita miliki di taman sendiri tak kalah jauh lebih indah.

Lagipula, bahagia bukan hanya dari yang nampak saja bukan? Definisi bahagia setiap orang juga berbeda-beda.

Kalau rumputmu jadi sehijau tetangga, apa kau bahagia menjadi sama dengan yang lain? tapi, bukankah tak satupun orang lain adalah diri kita yang menjadikan kita memiliki kelebihan.

Jangan jauhkan diri dari rasa syukur.

Di era yang serba pragmatis, kebanyakan orang menetapkan standar kesuksesan harus selalu diatas orang lain. Coba buka deh instagram A, keren banget ya sekarang punya karir yang cemerlang, keluarganya juga akur sekali. Yang B juga, kalau lihat dari postingannya kayak seru sekali hidupnya, selalu travelling kemana-mana, makin cantik juga loh.

Main media sosial buat menyenangkan hati, kok ujungnya jadi makin jauh dari syukur? Memuji orang lain tentu boleh, tapi yang menjadi berbahaya juga apabila kita menganggap yang dimiliki orang lain didapatkan secara sekejap, sementara karir, keluarga dan kebaikan lain yang mereka miliki berasal dari kerja keras, jatuh bangun, dan usaha yang juga mengenal senang sedih. Kadang kita terbiasa hanya melihat hasil saja, tanpa melihat proses yang dijalani. Apa kita siap melakukan hal yang sama?

Bahagia kalau bisa jalani segala sesuatunya dengan hati. Sukses adalah bisa syukuri apa yang sudah dijalani.

Ada yang berbahagia dengan hidup sederhana dirumah mungil, mereka telah cukup berbahagia dari hasil yang mereka usahakan dengan keringat sendiri.
Ada yang menganggap sukses bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan, bukan hanya persoalan berapa banyak barang yang dimiliki.

Setiap orang pada akhirnya sampai pada keputusan yang berbeda, tugas kita harus saling memaklumi, bukan menghakimi.

Jadi, apa definisi bahagiamu?

Tinggalkan Komentar