Racauan

Setahun Bertumbuh Bersama

Tak menyangka sudah setahun hari sabtu itu berlalu. Ternyata kita sudah setahun menikah.

Ada banyak sekali proses yang kami lewati. Ada banyak hal juga yang bikin kami sadar bahwa kami berbeda. Kami belajar kembali bahwa bukankah pasangan memang harus saling menerima. Yang menyenangkan, ada banyak hal juga yang bikin kami menjadi semakin kagum satu sama lain.

Kadang sering kali teman-teman menanyakan tentang pernikahan. Setelah nikah enak nggak? Gimana rasanya? Sering berantem nggak? Suami beneran bakal bantuin ngurusin rumah?

Jawaban yang saya berikan tetap selalu sama, menikah itu seru sekali. Seru karena bisa sama-sama, sabar dan syukurnya dijalani sama-sama. Yang berat bisa jadi lebih ringan. Tapi memang tak ada yang sempurna, kami juga sama seperti yang lain. Kadang berbeda pandangan di beberapa hal, tapi kami sepakat bahwa itu bagian dari proses. Menjadi lebih baik lagi. Berusaha dinikmati saja. Percaya bahwa sabar dan syukur memang adalah kunci.

Menikah pun akhirnya membawa saya menjalani hari-hari baru sebagai seorang Istri dan Ibu. Awalnya masih kaku. Tiba-tiba berpindah tempat tinggal, banyak merasa sendirian di tempat baru, dan suka masih kaget sendiri.

Menjadi Istri, Menjadi Ibu

Sejujurnya, saya selalu merasa kurang sebagai seorang istri, pun begitu juga kata kak Azhar sebagai suami. Perasaan itu membuat kami sadar untuk tidak berhenti belajar.

Saya merasa kurang sabar; kadang suka kesel kalau kak azhar menyimpan barang sembarang, suka bad mood kalau dia tidur lagi diwaktu pagi atau suka lupa sama sama janjinya.

“Kak azhar baju yang tidak lagi dipakai itu dikumpulkan, menuhin lemari”

“Sepatunya astaga nggak disimpan di rak”

“Kak, tolong cuciannya udah seminggu di rendam”

“Kemarin tanamannya nggak disiram ya”

“Malam ini kita makan telur dadar gapapa ya? Ria tidak sempat masak banyak hari ini”

“Tuh kan, katanya mau nonton film, ini malah tidur”

Pernikahan ini juga selalu dipenuhi pertanyaan-pertanyaan. Kadang tanya beneran, tanya drama sampai tanya sekadar iseng aja.

Ingin jadi orangtua seperti apa nanti kak?
Seperti yang selalu kita bicarakan.
Misalnya?
Yang mendukung Aka bebas menjadi apa yang dia inginkan, selama itu baik. Menjadi orangtua yang percaya pada anaknya. Menemani Aka tumbuh dan belajar, karena kita juga sebenarnya sedang belajar bersama.

Kak azhar, kalau ria nanti kerja juga gimana?
Ya, gapapa. Selama ini bebas aja, saya tugasnya cuma dukung dan doakan. Sekarang juga ria kan kerja di rumah, nggak harus kerja di kantor untuk dibilang punya kerjaan.

Kak azhar, kalau ria meninggal duluan gimana? Nikah lagi nggak?
Ini habis nonton film apanih tadi? Labil lagi nih pertanyaannya.

Setahun bersama, kami banyak belajar. Banyak juga salahnya. Awal menikah ketika rumah berantakan, rasanya seru dan bisa jadi bahan tertawaan buat haha hihi. Sekarang kalau berantakan, mau nggak mau ya dibereskan karena emang bakal nggak nyaman. Kami sadar sudah akan menjadi orang tua, kami yang suka berantakan, harus mulai mencintai kebersihan.

Puncak dari kebahagiaan setahun bersama adalah kehadiran Malaka.  Menyempurnakan kebahagiaan kami. Menjadi hadiah terindah dalam pernikahan yang kami jalani selama ini.

Terima kasih ya kak Azhar, sudah menemani untuk bertumbuh, selalu sama-sama ya.

 

With Love,

 

Your wife.

Tinggalkan Komentar